[Review Novel] Malory Towers #1 : Semester Pertama di Malory Towers

source   IDENTITAS BUKU : Judul : Semester Pertama di Malory Towers Penulis : Enid Blyton Penerbit : Gramedia Pustaka Utama T...


IDENTITAS BUKU :
Judul : Semester Pertama di Malory Towers
Penulis : Enid Blyton
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 248 halaman
Terbit : 1984
ISBN : -
Rating : 4.5 dari 5 bintang

SINOPSIS :
Darrel Rivers adalah murid baru kelas 1 di Malory Towers, sekolah khusus perempuan. Dia tinggal di Menara Utara bersama anak-anak lainnya. Di semester pertama ini, dia berteman dengan Alicia yang nakal, suka berbicara tajam dan apa adanya, namun pintar. Juga dengan Betty, sahabat Alicia. Selain itu, ada Gwendoline - anak manja yang selalu mau menang sendiri dan berhati keji, Mary - Lou si penakut, Sally - si pendiam, Irene - si tukang ketawa terbahak-bahak, dan anak-anak lainnya.

Di serial pertama Malory Towers ini dijabarkan kehidupan Darrel dan teman-temannya. Bagaimana tingkah mereka yang nakal, suka mengerjai guru, iri, berantem dengan teman lain, dan bagaimana membantu teman lain. Di seri pertama ini juga menceritakan tentang proses pencarian sahabat sejati.

REVIEW :
Ini buku pertama Enid Blyton yang saya baca. Ya, saya memang ketinggalan soal buku bagus -_- Sebenarnya udah banyak yang bilang kalo buku-buku Enid Blyton ini bagus. Tapi berhubung tidak pernah ketemu pas ke toko buku, dan baru ketemu pas di rentalan buku, ya akhirnya coba membacanya.

Awalnya agak ragu. Ini bukunya tua banget ya, tahun 1984. Lebih tua 11 tahun dariku. Kertasnya sudah menguning dan renyah-renyah gitu. Jadi megangnya super hati-hati. Udah gitu orang-orang covernya itu jadul banget ya. Saya pernah melihat cover terbarunya. Memang bagus, tapi sepertinya lebih bagus cover yang lama ini :)

Saya sangat menikmati membaca buku ini. Meskipun tidak cepat selesai, itu karena saya berusaha memahami dan memasukkan nilai moralnya ke dalam hati. Buku anak-anak yang sangat bagus. Kenapa tidak dibaca sedari kecil saja ya. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan? Bahkan saya berkeinginan memberikan buku ini kepada adik-adik saya, biar mereka bisa mengambil nilai moral yang ada di dalamnya.

Bahasanya ringan, mengalir, dan sangat mudah dipahami. Membacanya seakan-akan saya juga berada di sana. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Bagaimana kenakalan mereka ketika mengerjai Nona Potts, bagaimana ketakutan Darrel setelah dia mendorong jatuh Sally hingga menyebabkan anak itu sakit perut yang parah. Saya suka sama tingkah laku mereka yang unik-unik sekali. Apalagi tingkah lakunya si Gwendoline ini. Meskipun dia jahat, tapi kok bisa ada aja ya ide yang keselip di kepalanya itu. 

Untuk tokoh-tokohnya, favorit saya ya si Darrel ini. Soalnya terkadang saya merasa mirip dengan Darrel. Jadi si Darrel ini digambarkan sebagai anak yang ceria, jujur dan apa adanya, namun tidak berlidah tajam, sebenarnya pintar namun dia hanya bisa fokus ke satu hal. Saya paling suka di bagian ini. 

Jadi ceritanya di awal semester, si Darrel ini sebenarnya pintar. Nilai-nilainya baik. Tapi lama-kelamaan dia tergoda untuk berteman dengan Alicia dan Betty. Darrel kagum sama kejahilan Alicia dan akhirnya ikut mengerjai guru-gurunya. Akhirnya Darrel terlalu terlena dengan kejahilan tersebut dan terlalu fokus sama kesenangannya. Akibatnya, nilai-nilainya menurun. Padahal meskipun Alicia ikut bermain, tapi nilainya tetap bagus. Akhirnya Nona Potts menasihati Darrel. Nona Potts bilang ada orang-orang yang bisa mengerjakan banyak hal dan semuanya berakhir dengan baik (multi tasking). Tapi untuk Darrel, dia hanya bisa mengerjakan satu hal apabila ingin mendapatkan hasil yang maksimal (single tasking). Meskipun multi tasking itu terlihat lebih enak, namun mereka jarang yang menjadi ahli di bidangnya. Justru si single tasking inilah, bila dia fokus pada bidang yang ia senangi, maka ia bisa menjadi ahli di bidangnya.

Terus banyak pelajaran yang dijabarin di sini tanpa kesan menggurui. Pelajaran ini disampaikan secara langsung dan ada beberapa yang tersirat. Memang beberapa alasan orang tua mereka menyekolahkan anaknya di Malory Towers agar anaknya bisa belajar menjadi lebih baik lagi. Nah ini ada beberapa nilai moral yang saya dapat :
1. Tidak semua keinginan kita bisa tercapai, apalagi bila kita berada di keramaian. Kita harus mau menuruti aturan dan mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan diri sendiri.
2. Kemarahan hanya akan menghancurkan harga diri kita, dan membawa penyesalan di kemudian hari.
3. Jika kita menginginkan sesuatu, maka berusahalah untuk mendapatkannya. Takut? Buat rasa takut atau rasa takut itu yang akan menguasai diri kita.
4. Jangan meremehkan orang lain. Setiap orang pasti mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik. Tugas kita adalah membantu orang itu untuk keluar dari rasa takutnya.
5. Sahabat sejati itu adalah orang yang meskipun kita sering berlaku kasar terhadapnya, namun dia tetap ada disamping kita ketika kita berada di titik terendah.

Lalu, kalau memang buku ini sebagus itu, kenapa nggak ngasih 5 bintang? Kenapa berkurang 1/2 bintang?

Satu-satunya hal yang saya sesali adalah ucapan para guru di sini. Rasanya guru-guru ini terbiasa mengatakan muridnya tolol, bodoh, tidak menggunakan otak, dan sebagainya. Bukankah itu kata-kata yang kasar? Bukankah seorang guru tidak boleh mengecap seorang anak itu bodoh? 

Dosenku bilang, tidak ada peserta didik yang bodoh. Yang ada hanyalah perbedaan kecepatan mereka dalam menyerap pelajaran. Ada yang sekali dijelasin langsung paham, ada pula yang perlu 1-2 kali penjelasan baru dia paham. Jadi yang perlu dilakukan guru hanyalah memberikan waktu dan dukungan lebih bagi peserta didik agar mereka semua bisa memahami pelajaran.

Tapi secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur dan kaya akan nilai moral. Tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai bacaan untuk adik atau anak, kan? XD

NB :
Di buku dituliskan, diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1984. Tapi di goodreads bilang ini diterbitkan tahun 1995. Yang benar yang mana ya?

You Might Also Like

0 comment(s)